RUMEKSO BUMI: Mengembalikan jatidiri bangsa yang luhur dari para leluhur untuk Menjaga Alam di Goa Pasir, Desa Junjung
Di tengah maraknya bencana alam yang silih berganti, masyarakat kerap berbondong-bondong mencari bantuan kemanusiaan setelah kejadian itu terjadi. Namun sering kali kita lupa bahwa yang jauh lebih penting adalah merawat bumi sebelum bencana datang. Kesadaran preventif ini perlahan memudar, tergeser oleh dinamika manusia modern yang kian menjauh dari alam.
Kerusakan alam tidak hadir begitu saja. Ia lahir dari kerakusan manusia-manusia yang tak lagi beradab, mereka yang mengeklaim bekerja atas nama “pengembangan sumber daya manusia” atau “kepentingan kemanusiaan”, tetapi menutup mata terhadap rusaknya sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan.
Di tengah kegelisahan itu, lahir sebuah gerakan kecil namun penuh makna: RUMEKSO BUMI. Sebuah kelompok yang mengajak setiap insan yang masih ingin hidup layak di muka bumi untuk kembali pada prinsip dasar kehidupan: menjaga, merawat, dan menghormati alam.
Gerakan ini menekankan tiga nilai utama:
1. Pelestarian lingkungan – tidak hanya dengan menjaga hutan, air, dan tanah, tetapi juga mengembalikan kesadaran bahwa alam adalah “rumah besar” manusia.
2. Pelestarian ajaran luhur – nilai-nilai budaya Jawa mengajarkan manusia untuk manunggaling kawula lan Gusti, menyatu dengan ciptaan-Nya, tidak rakus, dan tidak merusak tatanan.
3. Komunikasi dengan alam raya – mengenali tanda-tanda alam, memahami keseimbangan semesta, serta mengembalikan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya.
Dalam filosofi Jawa terdapat dua ajaran yang menjadi dasar gerakan ini:
“Rahayu Sagung Dumadi”
Doa agar seluruh makhluk hidup mendapatkan keselamatan, keharmonisan, dan ketenteraman.
“Mamayu Hayuning Bhawana”
Tugas manusia untuk memperindah, memperbaiki, dan menjaga keutuhan dunia, bukan merusaknya.
Nilai-nilai itu kembali digaungkan melalui aktivitas budaya dan spiritual di Goa Pasir, Desa Junjung Pasir—sebuah tempat yang sarat ketenangan dan kearifan lokal. Goa Pasir menjadi ruang kontemplasi, tempat masyarakat berkumpul untuk menguatkan tekad menjaga bumi serta memohon restu kepada alam agar keseimbangan tetap terpelihara.
RUMEKSO BUMI meyakini bahwa melestarikan bumi bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi tugas setiap manusia yang hidup dan menghirup udara dari bumi yang sama. Di Goa Pasir, suara alam mengingatkan bahwa bencana adalah tanda ketidakseimbangan, dan keseimbangan hanya dapat kembali bila manusia kembali menghormati bumi.
Gerakan ini mengajak kita semua, siapa pun dan di mana pun, untuk mulai dari langkah kecil: menjaga lingkungan, menghormati ajaran leluhur, dan membangun kembali hubungan batin dengan bumi.
Rahayu Sagung Dumadi.
Mamayu Hayuning Bhawana.
Dening : Kang Den (Farid)
Komentar
Posting Komentar